Tiba-tiba raut wajahnya menegang. Kedua tangannya mengepal keras, melesat
bergerak gesit layaknya pendekar bersilat. Kakinya kokoh, mencengkeram dan
sesekali mengais-ngais tanah. Bajunya terkoyak, tercabik-cabik hingga tak
karuan oleh tangannya sendiri. Bapak itu seketika menjadi beringas tak terkendali.
“Grrr…siapa kalian? Mau apa datang ke sini?” Suaranya serak menyentak. Tatapannya
tajam, menoleh ke kanan dan ke kiri, mengamati siapa-siapa yang ada di
sekelilingnya.
“Assalamualaikum. Anda ini siapa?” Aku menyahut, sedikit terpana dan takut.
Aku memberanikan diri menyodorkan sepatah kata, memulai berdialog dengan orang
yang sedang kesurupan ini. Orang-orang lain di dekatku hanya diam mengamati.
“Aku Waringin Jati, yang disuruh Mangku Jati menjaga tempat ini sejak
zaman dulu.” Kembang-kempis dadanya terasa. Napasnya terengah-engah.
“Maaf, Mbah. Kami tidak bermaksud mengganggu. Kami hanya ingin tahu
sejarah penyebaran Islam di daerah ini. Apa
benar Mangku Jati adalah tokoh penyebar Islam di sini? Dengan cara apa Islam
disebarkan?”
“Dulu, manusia di sini belum punya agama. Manusia di sini masih bodoh.
Mangku Jati belum punya pengikut. Beliau malah dianggap akan merusak tata krama
di desa ini,” jawabnya.
“Kenapa disangka merusak, bukannya niatnya baik?”
“Lho...baik itu kan menurut kamu yang hidup di zaman sekarang!”
Jawabannya membuatku tersontak. Namun kulanjutkan untuk berdialog, “Orang-orang
di sini dulu memang seperti apa?”
“Di sini dulu belum ada agama. Belum ada aturan dan norma. Manusia liar
layaknya binatang!” jawabnya sembari terus menatapku tajam.
“Cara Mangku Jati menyebarkan agama di sini bagaimana?”
Bapak itu kemudian menggerak-gerakkan tangannya. Melenggak-lenggok gemulai
layaknya seorang penari. Namun kemudian irama gerakan berubah total. Tangannya kokoh,
mengepal melesat-lesat bak pendekar. Bapak itu menjelaskan bahwa orang-orang di
sini dulu suka berjoget, suka kesenian tari dan musik tradisional. Mangku Jati
juga melakukan hal yang sama, namun disisipi dengan silat. Pendekatan zaman
dahulu bukan langsung dengan ilmu agama, namun dengan seni dan silat.
“Coba aku tanya, agamamu apa?” bapak itu mengacungkan telunjuk jarinya ke
arahku, tiba-tiba melemparkan sebuah pertanyaan.
“Agamaku Islam, Mbah.”
“Tahu syarat masuk Islam?”
“Membaca syahadat...” jawabku agak ragu. Padahal pertanyaan itu
seharusnya mudah untuk seseorang yang sudah lama ber-Islam sepertiku.
“Tahu artinya?”
“Tiada Tuhan selain Allah, dan Nabiku adalah Muhammad utusan Allah...”
“Bukan seperti itu,” dia menggeleng-gelengkan kepala, kemudian
membenarkan, “saya bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa
Nabi Muhammad utusan Allah.”
“Tahu kamu...kapan kamu ketemu dengan Nabi? Bertemu saja tidak pernah,
kok bisa bersaksi? Saksi itu harus bisa menyaksikan,” lanjutnya bertanya
kepadaku, “coba ulangi bagaimana arti syahadat?”
“Aku bersaksi…”
“Lha…kapan kamu bertemu? Bertemu saja tidak pernah, kok bisa bilang
bersaksi?!” dia memotong perkataanku, “sana! Belajar ngaji dulu! Biar kamu
ngerti.”
Aku hanya bisa menatap bapak itu sambil mengangguk-anggukkan kepala. Bengong.
Tak percaya sedang dihakimi oleh orang yang sedang kesurupan, namun
perkataannya serasa menampari mukaku.
Penghakimannya tak berhenti di situ.
“Jadi, kamu masuk Islam ini gara-gara faktor turunan? Itu namanya
ikut-ikutan! Seharusnya kamu mulai sadar. Bersyahadat itu bersaksi bukan dengan
mata, tetapi dengan hati, rasa, dan cipta.
“Belajarlah dulu! Gali dulu apa yang ada dalam Islam. Agar kamu tahu
bahwa Islam itu adalah peraturan yang ditujukan untuk kebaikan anak cucu Adam.
Manusia itu tidak ada yang sempurna. Kesempurnaan hanya milik Allah.”
“Baik, Mbah. Benar,” sahut salah satu rekan yang ada di sebelahku, “apakah
di sini ada peziarah yang meminta-minta?”
“Banyak! Manusia semua memang layaknya binatang, bila akal dan
pikirannya tidak dipakai. Kuburan itu tidak bisa dimintai nomor (togel). Jangankan
makam saya, makam Nabi pun kalau dimintai nomor ya tidak bakal memberi. Kalau
ingin kaya ya gampang. Kerja!”
“Di sini, apa ada sebangsa jin yang mengganggu manusia? yang
membelokkan niat orang yang berziarah di sini?” Rekanku kembali bersuara.
“Manusia itu tidak perlu digoda sudah melenceng sendiri! Sekarang setan
malah menganggur, karena manusia sendiri yang mencari setan, bukan sebaliknya.
“…kalau masalah agama, tanya ke saya. Di sini gudangnya ilmu agama.”
“Gudang ilmu bagaimana maksudnya, Mbah?”
“Kamu punya masalah apa?...kamu sholat? Kamu yakin sudah shalat dengan sempurna?
Saya yakin belum. Sekedar contoh, inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati
lillahi rabbil ‘alamin. Coba, harta duniamu saya minta, boleh tidak?
“Kalau masih lebih berat dunia, artinya niatnya tidak kepada Tuhan.
Padahal kalian sudah janji bahwa sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan
matiku hanya untuk Allah Tuhan Semesta Alam.
“Memang manusia itu munafik. Tak ada manusia yang bersih hatinya. Beruntung
para leluhur mengajarkan Islam di sini, kalau tidak, manusia semestinya rusak.”
Aku tak merespon. Cerocosnya menyita perhatianku hingga aku tak banyak
kata.
“Apa Anda dulu punya pusaka saat menyebarkan agama?” rekanku bertanya
lagi.
“Dalam menyebarkan agama, pusaka kita adalah lidah dan tingkah laku.
Manusia akan diikuti jika bicaranya baik. Akan ditiru, jika tingkah lakunya
baik. Dengan kebaikan itulah manusia bisa menjadi guru. Artinya, manusia bisa
didengar omongannya juga bisa ditiru kelakuannya. Itulah senjata menyebarkan
agama. Tidak memakai keris atau pusaka sejenisnya. Senjata itu tidak ada
apa-apanya, sekedar besi yang ditempa menjadi keris. Itu semua buatan manusia,”
jelasnya panjang lebar.
Aku ternganga atas tiap kata yang keluar dari mulut bapak itu sejak
awal. Perkataannya bagai intisari ilmu yang keluar satu per satu. Aku baru
sadar bahwa masih begitu jauh pemahamanku tentang agama. Selama ini justru aku
meremehkannya, larut dalam materialisme dunia. Dan ilmu agama…hal yang menjadi
dasar hidup justru kuanggap sepele. Tahu itu aku malu.
“Ada pesan untuk kami semua, Mbah?” dengan masih tertegun aku mulai
kembali bertanya.
“Pesanku sedikit saja. Kalian hidup di dunia diciptakan oleh Allah
untuk menyembahNya. Wa ma khalaqtul jinna wal insa illa liya’budun. Jadi jika
ingin hidup selamat, mendekatlah kepada Allah. Jangan tinggalkan shalat lima
waktu. Pelajari syahadat dengan benar, biar paham. Tidak hanya jadi saksi
palsu.
“Mengaji jangan terlalu muluk. Perdalami dulu al-Fatihah. Contoh
kecilnya, alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji milik Allah Tuhan Semesta
Alam. Jadi, kalau manusia masih berhasrat dipuji maupun disanjung, maka itu
masih belum menjadi hamba Allah. Artinya manusia masih punya sifat riya’, ingin
dipuji karena amalnya.
“Buka kitab kalian. Pelajari. Pahami kalau kalian ingin tahu rahasia
alam semesta.”
mlg/19/11/14/*diadaptasi dari salah satu video “Dua Dunia”
Saya ingi semua orang islam di indonesia ini dapat menonton video tersebut,agar sadar dengan agamanya itu...
ReplyDeleteSaya sendiri sampai menangis mnonton video dua dunia ini....